WELCOME TO MY BLOG

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

LEDAKAN ENERGI KEBERHASILAN

Senin, 26 November 2012



Ketika saya menulis artikel ini, saya sedang menghadiri sebuah seminar di Jakarta. Saya melihat dengan mata kepala sendiri "orang-orang berenergi." Apakah energi dari orang-orang tersebut bisa dilihat? Ya. Bahkan sangat jelas. Mereka memiliki kekuatan keyakinan yang dahsyat. Semua terpancar dari tatapan mata, cara bicara, gerakan tubuh dan lain-lain.
Apakah "orang-orang berenergi" itu dengan sendirinya mengeluarkan energinya? Tentu saja tidak. Energi apa pun tidak akan terpancar dengan otomatis tanpa sebab. Seperti halnya kayu bakar tidak akan mengeluarkan energi panas tanpa dibakar terlebih dahulu. Bom nuklir tidak akan mengeluarkan energi yang super dahsyat tanpa diledakkan dahulu.
Demikian juga dengan emosi manusia. Mereka akan mengeluarkan energi yang sangat luar biasa jika emosi mereka diobok-obok terlebih dahulu. Misalnya membakar emosi mereka dengan analogi tentang penderitaan yang akan mereka hadapi dan juga oleh orang-orang yang mereka kasihi, jika mereka tidak segera bertindak untuk mencapai impian. Dan, hampir semua di antara mereka menangis. Saya juga, karena saya termasuk peserta seminar tersebut. Bahkan sampai ada yang pingsan (yang ini bukan saya), karena tidak bisa mengantisipasi ledakan energi yang ditimbulkan.
Apakah pancaran energi ini akan bersifat permanen? Tidak. Seperti halnya kayu bakar. Setelah dibakar dan mengeluarkan energi, jika dibiarkan akan redup dan mati. Demikian juga dengan bom atau petasan. Setelah meledak ya sudah, selesai.
Demikiankah dengan energi dari emosi manusia? Saya rasa demikian. Bahkan, emosi manusia seperti bom atau petasan. Jadi kita harus pandai memilih emosi mana yang harus diledakkan. Jika emosi negatif tentu saja akan sangat merugikan kita yang ujung-ujungnya menyesal. Jika itu emosi positif, maka akan berdampak positif bagi kita sendiri maupun terhadap lingkungan kita. Dan kita juga harus berusaha selalu mempertahankan ledakan emosi positif kita. Ini tidak mudah. Biasanya ia akan mudah redup dan bahkan mati keesokan harinya setelah kita bangun dari tidur.
Maka kita butuh stimulus untuk mempertahankannya agar ledakan energi positif kita terus meledak-ledak tanpa henti. Kita butuh semacam "catatan impian" untuk mengingatnya. Kita butuh agenda, bertemu dengan orang-orang yang positif, membaca buku motivasi atau artikel motivasi di Pembelajar.com, ikut pertemuan atau seminar-seminar yang melecut motivasi kita. Bagi yang kesulitan dana untuk ikut seminar yang sangat mahal pun ada seminar yang sangat murah, tapi sangat bagus dan bermutu untuk pembelajaran kita. Kita memang akan selalu membutuhkan stimulus untuk memotivasi kita dalam meraih impian.
Oya, para pelatih-pelatih profesional juga selalu merekomendasikan kita untuk selalu memiliki mentor. Namun, para mentor yang melatih kita tidak akan bisa berbuat banyak jika tidak ada kemauan dan keyakinan dari kita sendiri. Bagaimanapun juga keberhasilan adalah mutlak dari diri kita sendiri. Mentor hanya bersifat membakar emosi kita, memberi petunjuk dan contoh karena memang mereka lebih tahu dari kita, dan sudah mengamati dan mengalaminya sendiri. Seperti halnya jika kita akan mendaki sebuah gunung. Kita harus bertanya kepada yang pernah mendaki gunung tersebut.
Saya tambahkan lagi, kita juga mestinya bertanya kepada seseorang yang mengamati gunung tersebut meskipun dia belum pernah mendakinya. Tetapi, dia telah memiliki referensi yang cukup dari orang-orang yang relevan mengenai gunung tersebut dan ia memberitahukannya kepada kita. Saya kira ini lebih objektif. Karena kita sedang belajar dari siapa saja yang tahu tentang gunung itu. Ada kalanya seorang pendaki lupa memberitahu kepada kita soal di mana hambatannya. Dan kita justru mengetahuinya dari seorang pengamat—yang mempelajarinya dari sejumlah pendaki yang lain—yang notebene bukan pendaki.Tetapi sekali lagi, keberhasilan adalah dari diri kita sendiri. Yaitu dari kemauan dan keyakinan kita.
Untuk mencapai tujuan dan impian kita, kita tentu harus mempunyai kendaraan untuk menuju ke sana. Sudahkah Anda memilihnya dengan benar? Kendaraan yang lambat atau tercepat? Apa pun kendaraan kita, "mau, yakin dan fokus" adalah hal yang membuat kita berhasil.
Bagaimana menurut Anda?[ek]

0 komentar:

Posting Komentar